Jul 31, 2018

That Eyes



Mata itu selalu terbayang dibenakku.
Tidak pernah kulupa sedikitpun.
Mata yang memancarkan tatapan tajam sekaligus hangat diwaktu yang bersamaan.

Itulah matanya.

Bahkan ketika seluruh wajahnya ditutup, dan hanya mata yang terlihat.
Rasa-rasanya aku masih akan tetap mengenalinya.

Matanya.
Mata yang selalu ingin aku pandang.

Sepertinya aku bertemu lagi dengan mata itu hari ini.
Dalam sekian detik, hatiku terasa seperti ditusuk ribuan jarum yang sangat runcing.
Sesaat aku merasa ada yang menekan dadaku dengan sangat kencang.

Rasa sakit ini, rasa sakit yang sama seperti ketika aku melihat mata itu terakhir kali.

Bahkan hari ini, ketika aku mencoba menghindarinya, mata itu mencariku.
Ya, mata itu mencariku beberapa kali.
Ketika pandangan kita hampir bertemu, ku palingkan wajahku secepat mungkin.

Aku takut.

Aku takut untuk bertemu lagi dengannya dan merasakan sakit yang sama.
Rasa sakit, yang sudah kukubur dalam-dalam dibagian terjauh hatiku.

Aku tidak ingin rasa sakit itu bangkit.
Sekalipun aku masih memikirkan dan mengkhawatirkannya.

Apakah dia baik-baik saja?
Apakah dia makan teratur?
Apakah tidurnya cukup?
Apakah studinya lancar?
Apakah dia dan teman baiknya sudah berbaikan?
Apakah dia kesepian?
Apakah dia pernah sekali saja... memikirkanku lagi?

Dan, apakah dia pernah menyesal telah menyakiti hati orang lain?
Jika pernah, aku ingin dia melupakan itu dan melanjutkan hidupnya.
Sama sepertiku yang terus berusaha melanjutkan hidup dan menghapus bayang-bayangnya dari hati dan ingatanku.

Ku mohon, biarkan momen tadi menjadi pertemuan kami yang terakhir.
Aku tidak ingin melihatnya lagi secara langsung.
Biarkan dia tetap hidup diingatanku saja.
Itu sudah cukup bagiku.

*pict from google

Jul 26, 2018

Mr. Smith

Misi penyelamatan diri tidak semudah yang aku pikirkan. Diketinggian sekitar 20.000 kaki, aku harus melewati berbagai rintangan untuk bisa kembali ke camp. Keringatku bercucuran meskipun udara disini sangat dingin - tak sanggup membayangkan harus meluncur di berbagai air terjun yg curam. Satu persatu orang telah mengadu adrenalin mereka, kini tiba giliranku. Kakiku lemas, wajahku pucat - tak berani melihat ke bawah. Memang setiap dari kami akan didampingi oleh seorang yang lebih mahir, tapi hatiku masih tidak tenang - aku beruntung Evan yang akan mendampingiku.

Ia sangat tampan, rambut coklat dan mata birunya sangat mempesona. Ia terkenal sebagai pribadi yang dingin, tapi aku merasa sebaliknya. Mengetahui dia yang akan mendampingiku, aku merasa sangat senang dan aman apalagi tatapannya sangat hangat saat melihatku.

"Kau siap?" suara Evan membangunkanku dari lamunan.

Aku ingin berkata kalau aku takut dan sangat tidak siap, tapi aku akan berjuang jika itu bersamamu. Tapi tak satupun kata keluar dari mulutku, yang dapat kulakukan hanyalah mengangguk.
Evan tersenyum melihat anggukkan kaku dariku - manis sekali.

Setengah jalan berhasil aku lewati dengan mulus di dalam dekapannya.
"Ini akan segera berakhir, aku sudah sangat dekat ke camp." pikirku. Mengherankan, bukannya senang karena penderitaan ini akan berakhir, justru aku sedih mengingat akan segera berpisah dengan Evan. Aku tidak rela melepas pelukannya. Aku akan sangat merindukan aroma tubuhnya yang berbau seperti coklat. Aku tidak sanggup memikirkan itu.
Lebih baik hidup dengan penuh rintangan seperti ini dan tetap bersama Evan daripada hidup normal tanpa Evan.

"Kau lihat goa itu? Kita akan segera sampai setelah melewatinya. Kau tau sendiri kita adalah peserta terakhir yang akan sampai." suara Evan kembali menyadarkanku, ia mengedipkan sebelah matanya dan membuatku merona.
"Yeah, kuharap kau tidak kecewa karena kita akan sampai terakhir." ucapku berusaha bersikap acuh untuk menutupi rona merah pipiku.
Evan hanya tersenyum dan kami meneruskan perjalanan.

Obor menyala disepanjang goa menampilkan kemerlap batu dengan berbagai ukiran dan gambar prasejarah didalamnya - sangat indah. Tak dapat kubayangkan bagaimana membuat ukiran di dinding setinggi itu. Pikiranku melayang kemana-mana, tak sadar kalau Evan berbicara padaku.

"Apa kau mendengarkan?" tanya Evan masih dengan tatapan hangatnya.

"Maaf, tapi tadi aku terlalu sibuk menikmati keindahan goa ini. Kalau tidak keberatan, maukah kau mengulangi ucapanmu lagi? Aku janji akan mendengarkan kali ini." ucapku dengan penuh harap.

Evan tertawa "Aku mengajakmu duduk di batu itu sebentar untuk mengobrol sambil, yeah, kau tau, menikmati keindahan goa ini. Bagaimana?"

"Apakah itu diijinkan? Woah tentu saja aku sangat mau." apalagi bersamamu, tapi dua kata terakhir itu tak sanggup kuucapkan sembari menahan rona merah dipipiku.

"Tentu saja. Kalau begitu ayo." Evan menarik tanganku dengan lembut, mengangkat tubuhku dan membantuku duduk dibatu tinggi yang tadi ia tunjuk.
Aku membetulkan posisi duduk sambil menunggu Evan mengambil posisi disebelahku. Aku sangat terkejut saat dia memegang tanganku, menatapku - seolah siap menciumku. Aku yakin pipiku sudah merona seperti tomat matang saat dia tertawa dan menjauhkan wajahnya dariku.

Apa? Apa Evan mempermainkanku?
"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?" sontak aku bertanya padanya karena malu sekaligus merasa dipermainkan.

"Bukan, bukan begitu Ever. Maaf aku tertawa, tapi kau sangat manis. Kau merona sepanjang waktu dan itu sangat memesona." ucap Evan masih terkekeh.

"Lalu apa itu lucu? Aku merona karena, karena udara disini sangat dingin kau tau." aku merona karena kau dan kau malah mentertawaiku! Teriakku dalam hati.

"Maafkan aku. Aku tau disini memang dingin dan aku malah mengajakmu duduk-duduk sementara kau mengenakan pakaian tipis itu. Ayo kita lanjutkan perjalanan." Evan meloncat dari batunya dan kembali masuk ke dalam air. Kalimatnya terdengar sangat kecewa dan penuh penyesalan - membuatku merasa tidak enak hati. Selain memang karena aku menikmati cuaca dingin ini bersamanya, aku merasa ucapanku terlalu kasar dan menyakiti perasaannya.

"Tunggu, aku tidak bisa turun sendirian. Kembalilah, duduk disampingku. Maaf, aku tidak bermaksud bicara seperti itu, dan, well aku tidak terlalu kedinginan. Aku cukup menikmati pemandangan goa ini dan kuakui goa ini cukup hangat. Jadi, naiklah." aku yakin aku berhasil mengembalikan kepercayaan dirinya saat kulihat dia tersenyum dan berjalan kembali kearahku.

Tanpa mengucap sepatah katapun, dengan cepat Evan sudah kembali berada disebelahku dan mengulangi adegan yang sama. Ia kembali memegang tanganku.
Kali ini aku tidak merona dan hanya menikmati genggaman hangatnya. Sampai ketika ia mengecup punggung tanganku yang membuat aku merinding dan merona.

"Aku menyukaimu Ever. Sejak pertama kali kita bertemu di peresmian mahasiswa baru. Saat aku tidak sengaja menabrakmu dan membuatmu terjatuh." ucap Evan dengan penuh cinta sambil memandangi langit-langit goa yang berkilau.

Aku tidak menanggapi Evan untuk beberapa waktu, memikirkan bagaimana bisa aku tidak mengingat semua kejadian itu. Yeah, mungkin karena saat peresmian aku beberapa kali terjatuh dikerumunan mahasiswa dan membuatku tidak memerhatikan Evan sama sekali. Yeah, pasti begitu.

"Ever..." panggil Evan dengan lembut. Aku menoleh, melihat senyuman hangatnya dan tak kuasa menahan gejolak dihati, aku melepas genggamannya yang membuat Evan terkejut.

"Maaf, aku hanya terkejut karena, yeah aku tidak mengingat kejadian saat peresmian itu. Tapi itu bukan berarti aku tidak menyukaimu, maksudku, well siapa yang tidak menyukai seorang Evan Smith?" jawabku dengan cepat.

"Aku tidak mengharapkan kau mengingat kejadian itu Ever, itu bukan masalah buatku. Aku hanya, hanya ingin kau tau kalau aku menyukaimu. Aku sangat senang begitu melihat namamu, Ever Morgan, berada di list yang sama denganku." Evan bicara dengan matanya yang penuh cinta dan sangat hangat.

Aku hanya bisa tersenyum malu mendengar ucapannya dan kembali merona saat tangan Evan kembali menggenggam tanganku. Evan mencium punggung tanganku, menatapku, lalu mencium pipiku. Tubuh dan wajahnya semakin mendekat membuat mataku terpejam dengan sendirinya dan tak lama, aku merasakan napasnya memburu di wajahku, aku bisa merasakan detak jantungku semakin cepat, seiring tubuh kami semakin menyatu. Tangannya melingkari pinggangku - suasana goa yang sangat mendukung seolah mengurung kami agar tidak meneruskan perjalanan dan kembali ke camp. Aku......

-Ditulis pada 25 Januari 2016-

Jun 21, 2018

Penjara Superego


Id adalah dorongan yang berasal dari alam bawah sadar manusia.

Id hidup berdampingan bersama Ego dan Superego.

Bisa dibilang, Id dikendalikan oleh Ego yang berdasarkan prinsip realita dan Superego yang berdasarkan prinsip norma atau hukum.

Hubungan mereka memang cukup rumit, tapi menarik untuk dipahami.

Sulit rasanya menahan Id yang berteriak ingin dibebaskan dari penjara Superego.

Membuat Ego bimbang untuk memilih mengikuti Id atau Superego.

Akan tetapi, seringkali Id kalah dan Ego lebih memilih untuk mengikuti Superego.

Alhasil, Id yang terus-menerus ditahan dalam penjara tak kasat mata milik Superego menjadi penuh dan bergerak seperti bom waktu.

Bom yang dapat meledak sewaktu-waktu tanpa kepastian.

Oleh karena itu, terkadang Id juga perlu dikeluarkan.

Ada banyak cara untuk memanipulasi Id untuk bebas. (Lengkapnya kalian bisa baca teori dari Sigmund Freud)

Salah satunya adalah displacement, melampiaskan kepada orang lain. 
Atau cara halusnya, curhat.

Namun, tidak semua orang dapat memahami kita.

Ada kalanya, orang yang kita percaya dapat memahami isi hati kita malah berkhianat dan memberikan penilaian yang buruk.

Padahal, kita hanya ingin menumpahkan apa yang tidak dapat kita keluarkan pada subjek pertama.

Menyedihkan memang.

Ketika hanya butuh didengar, tapi malah dicela.

Tapi kita juga tidak dapat memaksa agar orang tersebut memahami kita.

Dan menemukan orang yang dapat memahami kita bukanlah hal yang mudah.

Lalu harus bagaimana...

Membuat frustasi...

Kepala terasa penuh dan ingin meledak.

Tapi tidak ada yang bisa dilakukan.

Hanya diam yang berjalan beriringan, menemani sepanjang waktu, sampai api kembali redup.

Helaan nafas panjang menjadi sahabat yang tak tergantikan.

Mungkin hanya itu caranya, sampai kita berhasil menemukan orang yang tepat.





*Pict by google
https://www.google.co.id/search?client=ms-android-samsung&tbm=isch&sa=1&ei=c5AqW83WOMXPvgSwxp_oDA&q=id+ego+superego&oq=id+ego+superego&gs_l=mobile-gws-wiz-img.3..35i39l2j0i19l3.13.1169..2743...0....199.1734.0j10......0....1.R7BwNMj1Sww%3D#imgrc=3iyF5VZXj4ODHM:&isa=y

Jun 10, 2018

Stupidity

Lelah dengan mereka yang tidak bisa diatur tapi juga tidak bisa mengatur.

Bukannya tidak fleksibel, tapi cobalah lihat situasinya.

Apakah itu waktu yang tepat untuk bermain?

Apakah itu waktu yang tepat untuk bermalas-malasan?

Apakah akan selalu bergantung pada satu orang untuk mengerjakan suatu hal?


Aneh.

Mati otak kah?

Tidak bisakah mereka menggunakan logikanya?

Hal sesederhana ini saja tidak tahu.

Kepala dua tidak menjamin tumbuhnya kedewasaan seseorang.

Mengecewakan.

Jun 9, 2018

Lingkaran Setan

Lelah memang kalau harus berjuang sendirian.

Untuk apa membuat sebuah kelompok kalau yang aktif hanya sebagian.

Semua memang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Semua bisa bersinar pada bintangnya masing-masing.

Tapi, bukankah alangkah baiknya bila tetap berkontribusi pada lebih banyak hal?

Aku memang bukan yang sempurna.

Aku pun juga hanya melakukan hal-hal yang ingin aku lakukan.

Tapi, mau sampai kapan berjalan seperti ini terus?

Tidakkah kalian lelah dengan permainan licik dan omong kosong yang terus berulang?

Haruskah kudatangkan badai dan mengundang air bah demi untuk membuka mata kalian?

Atau, memilih diam dan kembali ke peraduan?

Lagi

Aku melihatnya.

Tubuhnya yang tinggi besar terlihat jelas dari kejauhan.

Mata dan senyumnya yang khas, menyirikan diririnya yang begitu ku kenal.

Bayangnya semakin dan semakin dekat.

Sedikit lagi sampai dan menyentuh bayanganku.

Ah, bayangnya mengenai bayanganku.

Koloni Aneh

Aneh tapi nyata.
Ternyata benar, tipe yang sejenis akan saling menemukan dan membentuk sebuah koloni.

Tidak hanya berlaku untuk binatang.
Tapi juga manusia.

Sekelompok manusia yang mirip dan saling menemukan,
akan membentuk sebuah koloni.

Koloni itu nyata, muncul di hadapan umum.
Merusak imajinasi manusia di sekitarnya.

Koloni itu terasa janggal.
Bagaimana bisa orang-orang itu saling menemukan satu sama lain dan bersekongkol?

Kesamaan sikap, perilaku, dan pola pikirnya begitu mirip.
Hampir sama satu sama lain.

Kekanak-kanakan, tidak rasional, berlebihan.
Kombinasi yang pas untuk membumbui kudapan.

Pas untuk membuat seseorang memuntahkan seluruh isi perutnya.
Pas untuk membuat sang Ibu Kota muak.

Dewasalah, walaupun sedikit.
Tidakkah kau muak dengan dirimu sendiri?