Apa kau tau bagaimana rasanya terlalu banyak menerima kata-kata manis?
Banyak. Terlalu banyak menerima janji manis yang diingkari oleh si pembuat janji.
Sampai akhirnya kepercayaan menjadi masalah baru dihidupnya.
Dia tau ada sesuatu dengan dirinya.
Dia tau ada semacam masalah yang menahannya dan membuatnya seperti itu.
Dia tau semuanya.
Tapi, dia hanya tidak dapat menemukan inti masalahnya.
Dia tau, tapi tidak benar-benar yakin.
Apa yang harus dilakukan? Bagaimana mengatasinya?
Apakah itu hanya perasaannya semata?
APakah itu hanya kegelisahan tak berarti?
Atau, memang benar ada sesuatu yang belum terselesaikan?
Tapi apa?
Isu kepercayaan itukah masalahnya?
Apa benar itu masalahnya?
Dia tidak yakin.
Apakah benar isu kepercayaan, ataukah karena kali ini dia hanya tidak mengenal dengan baik arena permainannya?
Tapi kalau benar begitu, apakah selama 7 tahun yang dia habiskan tidak ada artinya?
Mengapa bisa dia menyia-nyiakan 7 tahun berada di arena yang berbeda tapi tetap selalu berakhir sama?
Dia tidak yakin.
Setiap kali dia memikirkan hal ini, dia selalu teringat kejadian 7 tahun silam.
Percaya tidak percaya, sebenarnya setengah hatinya yakin kalau semua ini berawal dari kejadian itu.
Tapi sebagian hatinya menolak untuk percaya.
Dia tidak mau menjadikan kejadian itu sebagai alasan.
Tapi bagaimana kalau memang itu penyebabnya?
Apa yang bisa dia lakukan untuk memperbaikinya?
Haruskah dia mencari seorang yang lebih ahli untuk menemukan jawabannya?
Atau haruskah dia menutup mata dan mencobanya saja?
Tidak. Tidak bisa.
Sampai kapanpun tidak akan bisa kalau isunya kepercayaan.
Dia harus bertemu dengan seorang yang dapat ia percaya sejak awal tanpa ia ragukan sedikitpun.
Tapi apa ada orang yang dapat memenuhi hal itu?
Atau haruskah dia yang berusaha melunak dan percaya.
Tapi bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai harapan lagi?
Jangan berekspektasi katamu?
Bagaimana bisa?
Sekalipun kamu tidak berekspektasi, tetap saja itu akan menyakiti hatimu.
Apa kau gila?
Apa kau yakin kau akan sanggup menahan sakitnya?
Apa kau yakin suatu saat akan berakhir jika bukan kau yang bersiap dan melawan lebih dulu?
Seorang anak remaja yang disakiti hatinya, yang diingkari kepercayaannya, yang dihancurkan dunianya oleh orang yang saat itu ia anggap teman, yang ia anggap berharga.
Bukan, ini bukan seperti yang kau pikirkan.
Dia masih perawan. Fisiknya baik-baik saja.
Tapi hati anak itu, kepercayaannya yang dihancurkan.
Dia muak dengan kata maaf.
Dia muak dengan drama yang dipertontonkan untuknya dulu.
Dia masih muak dengan semua itu.
Dia masih tidak terima saat itu harga dirinya dihancurkan.
Dia masih sukar untuk menerima bahwa betapa bodohnya dirinya dulu.
Kenapa bisa percaya begitu saja,,,, kenapaaa?
Rasa marahnya masih ada. Rasa sakit hatinya masih ada.
Dia masih belum bisa memaafkan kejadian itu. Dia belum bisa memaakan orang itu.
Apa yang harus dia lakukan?
Ada yang pernah mengatakan pada anak itu, bahwa "dalam hal ini, peruntunganmu sulit".
Tapi belum tentu orang itu benar.
Dia bukan Dewa. Dia bukan Tuhan.
Jadi aku tidak mau mempercayai kata-katanya.
Dan dia yakin, memang bukan itu penyebabnya.
Jadi hal itu tidak perlu dipikirkan.
Dia masih bertarung melawan dirinya sendiri.
Kata damai belum terjamah.
Tapi pasti, akan tercapai damai itu.
Pasti. Karena dia telah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia pasti, pasti, akan mencapainya.
No comments:
Post a Comment