May 22, 2020

Belum Saatnya

Apa kau tau bagaimana rasanya terlalu banyak menerima kata-kata manis?

Banyak. Terlalu banyak menerima janji manis yang diingkari oleh si pembuat janji.

Sampai akhirnya kepercayaan menjadi masalah baru dihidupnya.

Dia tau ada sesuatu dengan dirinya.
Dia tau ada semacam masalah yang menahannya dan membuatnya seperti itu.
Dia tau semuanya.
Tapi, dia hanya tidak dapat menemukan inti masalahnya.

Dia tau, tapi tidak benar-benar yakin.

Apa yang harus dilakukan? Bagaimana mengatasinya?
Apakah itu hanya perasaannya semata?
APakah itu hanya kegelisahan tak berarti?
Atau, memang benar ada sesuatu yang belum terselesaikan?

Tapi apa?

Isu kepercayaan itukah masalahnya?
Apa benar itu masalahnya?

Dia tidak yakin.

Apakah benar isu kepercayaan, ataukah karena kali ini dia hanya tidak mengenal dengan baik arena permainannya?
Tapi kalau benar begitu, apakah selama 7 tahun yang dia habiskan tidak ada artinya?
Mengapa bisa dia menyia-nyiakan 7 tahun berada di arena yang berbeda tapi tetap selalu berakhir sama?

Dia tidak yakin.

Setiap kali dia memikirkan hal ini, dia selalu teringat kejadian 7 tahun silam.
Percaya tidak percaya, sebenarnya setengah hatinya yakin kalau semua ini berawal dari kejadian itu.
Tapi sebagian hatinya menolak untuk percaya.
Dia tidak mau menjadikan kejadian itu sebagai alasan.
Tapi bagaimana kalau memang itu penyebabnya?
Apa yang bisa dia lakukan untuk memperbaikinya?

Haruskah dia mencari seorang yang lebih ahli untuk menemukan jawabannya?
Atau haruskah dia menutup mata dan mencobanya saja?

Tidak. Tidak bisa.
Sampai kapanpun tidak akan bisa kalau isunya kepercayaan.

Dia harus bertemu dengan seorang yang dapat ia percaya sejak awal tanpa ia ragukan sedikitpun.
Tapi apa ada orang yang dapat memenuhi hal itu?
Atau haruskah dia yang berusaha melunak dan percaya.
Tapi bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai harapan lagi?

Jangan berekspektasi katamu?

Bagaimana bisa?

Sekalipun kamu tidak berekspektasi, tetap saja itu akan menyakiti hatimu.
Apa kau gila?
Apa kau yakin kau akan sanggup menahan sakitnya?
Apa kau yakin suatu saat akan berakhir jika bukan kau yang bersiap dan melawan lebih dulu?

Seorang anak remaja yang disakiti hatinya, yang diingkari kepercayaannya, yang dihancurkan dunianya oleh orang yang saat itu ia anggap teman, yang ia anggap berharga.
Bukan, ini bukan seperti yang kau pikirkan.
Dia masih perawan. Fisiknya baik-baik saja.
Tapi hati anak itu, kepercayaannya yang dihancurkan.

Dia muak dengan kata maaf.
Dia muak dengan drama yang dipertontonkan untuknya dulu.
Dia masih muak dengan semua itu.
Dia masih tidak terima saat itu harga dirinya dihancurkan.
Dia masih sukar untuk menerima bahwa betapa bodohnya dirinya dulu.
Kenapa bisa percaya begitu saja,,,, kenapaaa?

Rasa marahnya masih ada. Rasa sakit hatinya masih ada.
Dia masih belum bisa memaafkan kejadian itu. Dia belum bisa memaakan orang itu.
Apa yang harus dia lakukan?

Ada yang pernah mengatakan pada anak itu, bahwa "dalam hal ini, peruntunganmu sulit".
Tapi belum tentu orang itu benar.
Dia bukan Dewa. Dia bukan Tuhan.
Jadi aku tidak mau mempercayai kata-katanya.
Dan dia yakin, memang bukan itu penyebabnya.
Jadi hal itu tidak perlu dipikirkan.

Dia masih bertarung melawan dirinya sendiri.
Kata damai belum terjamah.
Tapi pasti, akan tercapai damai itu.
Pasti. Karena dia telah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia pasti, pasti, akan mencapainya.

Mar 7, 2019

Senyum Sendiri

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.18 malam. Saat ini, aku sedang membaca buku Dilan 1991. Setiap halamannya mengisahkan kenangan yang manis dan ada juga yang pahit, tapi lebih banyak yang manis, walaupun pada akhirnya berujung pahit. Membaca ceritanya, aku yakin akan membuat para wanita yang membacanya akan berharap dapatbertemu laki-laki romantis nan humoris seperti Dilan. Ah, sayang sekali sepertinya tidak banyak orang sepertimu. Tapi kuharap, nanti, aku akan menemukan satu yang sepertimu.

Kisah cinta remaja yang sudah kulewati, pernah manis tapi pernah pahit juga. Dia juga dulu manis, hanya saja dia gila. Gila perempuan! Psyko! Dan brengsek! Tapi itu sudah masa lalu, aku juga tidak mengetahui kabarnya lagi. Kami sudah putus kontak sejak dulu. Dan aku sendiri juga tidak ingin berhubungan dengannya lagi. Membahasnya pun aku malas, tetapi ku ceritakan di sini hanya karena aku teringat kembali bagaimana kisah cintaku dulu waktu SMA, karena membaca dan menonton kisahnya Dilan-Milea.

Aug 21, 2018

When Dream Becomes True

Mimpi yang sekedar mimpi ternyata benar bisa menjadi kenyataan.
Mimpiku semalam sangat indah.
Aku bertemu dengan seseorang yang aku sukai.
Aku berbincang akrab dengannya, memegang tangannya, bersandar dibahunya, dan berbagi pengalaman bersama.

Sungguh mimpi yang indah.

Aku kira itu hanya sekedar mimpi.
Tapi ternyata itu sebuah pertanda!

Yupp! Begitu aku membuka ponsel, ada pesan darinya.
Bukan pesan romantis atau semacamnya..
Hanya dirinya yang menanyakan mengenai suatu acara dari organisasi yang aku ikuti.

Tapi tetap saja, aku senang bukan kepalang.
Terima kasih, universe... ❤

Aug 12, 2018

꿈이 있어요 ☆

Dreams come true...

Sebuah rahasia mengatakan apabila kau selalu memikirkan suatu hal, hal tersebut bisa menjadi kenyataan.

Hal itu lah yang ingin aku percayai.

Aku berharap keinginanku menjadi nyata.

Aku bahkan membuat visualisasi tiap keinginanku, karena katanta, melihat sesuatu yang diinginkan secara visual langsung dapat membantu mempercepat terkabulnya keinginan tersebut.

Ah, ada satu hal yang saat ini menjadi fokus utamaku.

Aaaa... hihihi... ini memalukan, tapi akan tetap kukatakan.

Ya!
Kekasih!

Hmm saat ini usiaku adalah usia dimana seharusnya aku menjalani hubungan romantis dengan seseorang.

Bertemu - saling suka - menyatakan cinta - pergi kencan - bergandengan tangan - saling memberi pelukan hangat - ........ aaahh T.T (menulis ini membuatku merasa lebih menyedihkan)

Tapi aku yakin. Suatu saat nanti. Ya. Suatu saat nanti. Pasti. Pastiii... aku akan menemukannya. Hmm atau,,, dia yang akan menemukanku ?

Sesungguhnya, aku bukan orang yang mudah jatuh cinta.
Tapi, aku rasa kali ini bisa berhasil (kalau aku lebih berusaha lagi).
Aku bertemu dengannya beberapa waktu lalu.
Dia lucu dan menggemaskan.
Tapi, dia juga berkarisma dan uuuhh sungguh enak dilihat.

Lalu kami berpisah begitu saja.
Ya. Tentu saja kami tidak saling mengenal.
T.T

Tapi beberapa hari setelahnya, aku bertemu lagi dengannya.
(((Bukankah ini takdir ?)))
Hmm tapi kurasa bukan, kami bertemu lagi karena ada rangkaian acara yang dilakukan bersama oleh dua organisasi yang kami ikuti saja.

Sejak saat itu aku belum bertemu dengannya lagi.
TAPI,,, aku sudah menemukan dan memfollow SNS nya!
Dan dalam hitungan detikkkk... dia memfollow SNS ku juga!

WUOHHHH!
Mengagumkan!
Membuat ku terkejut setengah mati.
Aku sangat berterima kasih pada jari, hati, dan pikiranku yang sudah berusaha mati-matian bekerja keras memutuskan untuk menekan menu "follow" atau tidak.
Aku bersyukur akhirnya menekan menu itu karena ia merespon begitu cepat!

Tapi... belum ada hal menarik lainnya yang terjadi setelah itu (selain hal menarik yang terjadi dipikiranku sendiri) TTuTT

Kata rahasia itu, kalau aku memvisualisasikan keinginanku dalam pikiran secara berkala dan rutin, kemungkinan hal tersebut menjadi kenyataan semakin besar.
Bukannya aku gila.
Tapi ini benarr! Kau harus selalu berpikir positif untuk mendapatkan dan menarik hal positif jugaa.

Yah... OH aku ingat!
Ada hal menarikk yang terjadi sehari setelah aku bertemu dengannya untuk kedua kalinya!
Seorang teman, mengirimiku sebuah foto percakapan di Chat, isinya....
Sebuah percakapan group. Orang itu meng-capture foto kami berdua (kami mengadakan foto bersama seluruh partisipan - entah bagaimana, secara kebetulan kami berdiri bersebelahan) dan mengirim pesan "COCOK KAN HAHAHA".

WUAAAHHHHH! Aku sungguh merasa ini lampu hijau buatku! Barulah setelah itu aku memfollow SNSnya.. tapi... ternyata dia tidak melakukan apapun selain memfollow diriku juga TTuTT

Hemm ada hal lain yang ingin kuceritakan. Saat kami berfoto bersama, entah mengapa aku merasa dia seperti sengaja ingin berdiri bersebalahan denganku.
Ya tentu saja aku tau itu mungkin hanya perasaanku saja.
Tapi aku sungguh-sungguh merasa seperti itu.
Buktinya, di dua foto dengan group yang berbeda, kami selalu bersebelahan.
((HEI, bukan aku yang sengaja berdiri disebelahnya!))

Dipertemuan pertama kami, aku juga cukup sering memperhatikannya dan tidak sengaja beberapa kali berpapasan mata dengan dirinya.
Bukankah itu berarti dia juga diam diam menatapku ?

Hmmm baiklah. Mungkin perasaanku saja.

Tapi, aku harap, perasaanku itu benar dan bisa menjadi kenyataan.
Aku akan menunggunya! ><

Aug 1, 2018

Malam yang Sepi


Aku juga.

Aku juga merasa sepi.

Kesepian yang sama sepertimu.

Hanya saja tidak kuutarakan.

Selalu kusuguhkan senyum ceria pada orang lain.

Senyum seperti orang bodoh.

Mengenaskan.
Orang bodoh yang kesepian.





*pict from google

Jul 31, 2018

That Eyes



Mata itu selalu terbayang dibenakku.
Tidak pernah kulupa sedikitpun.
Mata yang memancarkan tatapan tajam sekaligus hangat diwaktu yang bersamaan.

Itulah matanya.

Bahkan ketika seluruh wajahnya ditutup, dan hanya mata yang terlihat.
Rasa-rasanya aku masih akan tetap mengenalinya.

Matanya.
Mata yang selalu ingin aku pandang.

Sepertinya aku bertemu lagi dengan mata itu hari ini.
Dalam sekian detik, hatiku terasa seperti ditusuk ribuan jarum yang sangat runcing.
Sesaat aku merasa ada yang menekan dadaku dengan sangat kencang.

Rasa sakit ini, rasa sakit yang sama seperti ketika aku melihat mata itu terakhir kali.

Bahkan hari ini, ketika aku mencoba menghindarinya, mata itu mencariku.
Ya, mata itu mencariku beberapa kali.
Ketika pandangan kita hampir bertemu, ku palingkan wajahku secepat mungkin.

Aku takut.

Aku takut untuk bertemu lagi dengannya dan merasakan sakit yang sama.
Rasa sakit, yang sudah kukubur dalam-dalam dibagian terjauh hatiku.

Aku tidak ingin rasa sakit itu bangkit.
Sekalipun aku masih memikirkan dan mengkhawatirkannya.

Apakah dia baik-baik saja?
Apakah dia makan teratur?
Apakah tidurnya cukup?
Apakah studinya lancar?
Apakah dia dan teman baiknya sudah berbaikan?
Apakah dia kesepian?
Apakah dia pernah sekali saja... memikirkanku lagi?

Dan, apakah dia pernah menyesal telah menyakiti hati orang lain?
Jika pernah, aku ingin dia melupakan itu dan melanjutkan hidupnya.
Sama sepertiku yang terus berusaha melanjutkan hidup dan menghapus bayang-bayangnya dari hati dan ingatanku.

Ku mohon, biarkan momen tadi menjadi pertemuan kami yang terakhir.
Aku tidak ingin melihatnya lagi secara langsung.
Biarkan dia tetap hidup diingatanku saja.
Itu sudah cukup bagiku.

*pict from google

Jul 26, 2018

Mr. Smith

Misi penyelamatan diri tidak semudah yang aku pikirkan. Diketinggian sekitar 20.000 kaki, aku harus melewati berbagai rintangan untuk bisa kembali ke camp. Keringatku bercucuran meskipun udara disini sangat dingin - tak sanggup membayangkan harus meluncur di berbagai air terjun yg curam. Satu persatu orang telah mengadu adrenalin mereka, kini tiba giliranku. Kakiku lemas, wajahku pucat - tak berani melihat ke bawah. Memang setiap dari kami akan didampingi oleh seorang yang lebih mahir, tapi hatiku masih tidak tenang - aku beruntung Evan yang akan mendampingiku.

Ia sangat tampan, rambut coklat dan mata birunya sangat mempesona. Ia terkenal sebagai pribadi yang dingin, tapi aku merasa sebaliknya. Mengetahui dia yang akan mendampingiku, aku merasa sangat senang dan aman apalagi tatapannya sangat hangat saat melihatku.

"Kau siap?" suara Evan membangunkanku dari lamunan.

Aku ingin berkata kalau aku takut dan sangat tidak siap, tapi aku akan berjuang jika itu bersamamu. Tapi tak satupun kata keluar dari mulutku, yang dapat kulakukan hanyalah mengangguk.
Evan tersenyum melihat anggukkan kaku dariku - manis sekali.

Setengah jalan berhasil aku lewati dengan mulus di dalam dekapannya.
"Ini akan segera berakhir, aku sudah sangat dekat ke camp." pikirku. Mengherankan, bukannya senang karena penderitaan ini akan berakhir, justru aku sedih mengingat akan segera berpisah dengan Evan. Aku tidak rela melepas pelukannya. Aku akan sangat merindukan aroma tubuhnya yang berbau seperti coklat. Aku tidak sanggup memikirkan itu.
Lebih baik hidup dengan penuh rintangan seperti ini dan tetap bersama Evan daripada hidup normal tanpa Evan.

"Kau lihat goa itu? Kita akan segera sampai setelah melewatinya. Kau tau sendiri kita adalah peserta terakhir yang akan sampai." suara Evan kembali menyadarkanku, ia mengedipkan sebelah matanya dan membuatku merona.
"Yeah, kuharap kau tidak kecewa karena kita akan sampai terakhir." ucapku berusaha bersikap acuh untuk menutupi rona merah pipiku.
Evan hanya tersenyum dan kami meneruskan perjalanan.

Obor menyala disepanjang goa menampilkan kemerlap batu dengan berbagai ukiran dan gambar prasejarah didalamnya - sangat indah. Tak dapat kubayangkan bagaimana membuat ukiran di dinding setinggi itu. Pikiranku melayang kemana-mana, tak sadar kalau Evan berbicara padaku.

"Apa kau mendengarkan?" tanya Evan masih dengan tatapan hangatnya.

"Maaf, tapi tadi aku terlalu sibuk menikmati keindahan goa ini. Kalau tidak keberatan, maukah kau mengulangi ucapanmu lagi? Aku janji akan mendengarkan kali ini." ucapku dengan penuh harap.

Evan tertawa "Aku mengajakmu duduk di batu itu sebentar untuk mengobrol sambil, yeah, kau tau, menikmati keindahan goa ini. Bagaimana?"

"Apakah itu diijinkan? Woah tentu saja aku sangat mau." apalagi bersamamu, tapi dua kata terakhir itu tak sanggup kuucapkan sembari menahan rona merah dipipiku.

"Tentu saja. Kalau begitu ayo." Evan menarik tanganku dengan lembut, mengangkat tubuhku dan membantuku duduk dibatu tinggi yang tadi ia tunjuk.
Aku membetulkan posisi duduk sambil menunggu Evan mengambil posisi disebelahku. Aku sangat terkejut saat dia memegang tanganku, menatapku - seolah siap menciumku. Aku yakin pipiku sudah merona seperti tomat matang saat dia tertawa dan menjauhkan wajahnya dariku.

Apa? Apa Evan mempermainkanku?
"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?" sontak aku bertanya padanya karena malu sekaligus merasa dipermainkan.

"Bukan, bukan begitu Ever. Maaf aku tertawa, tapi kau sangat manis. Kau merona sepanjang waktu dan itu sangat memesona." ucap Evan masih terkekeh.

"Lalu apa itu lucu? Aku merona karena, karena udara disini sangat dingin kau tau." aku merona karena kau dan kau malah mentertawaiku! Teriakku dalam hati.

"Maafkan aku. Aku tau disini memang dingin dan aku malah mengajakmu duduk-duduk sementara kau mengenakan pakaian tipis itu. Ayo kita lanjutkan perjalanan." Evan meloncat dari batunya dan kembali masuk ke dalam air. Kalimatnya terdengar sangat kecewa dan penuh penyesalan - membuatku merasa tidak enak hati. Selain memang karena aku menikmati cuaca dingin ini bersamanya, aku merasa ucapanku terlalu kasar dan menyakiti perasaannya.

"Tunggu, aku tidak bisa turun sendirian. Kembalilah, duduk disampingku. Maaf, aku tidak bermaksud bicara seperti itu, dan, well aku tidak terlalu kedinginan. Aku cukup menikmati pemandangan goa ini dan kuakui goa ini cukup hangat. Jadi, naiklah." aku yakin aku berhasil mengembalikan kepercayaan dirinya saat kulihat dia tersenyum dan berjalan kembali kearahku.

Tanpa mengucap sepatah katapun, dengan cepat Evan sudah kembali berada disebelahku dan mengulangi adegan yang sama. Ia kembali memegang tanganku.
Kali ini aku tidak merona dan hanya menikmati genggaman hangatnya. Sampai ketika ia mengecup punggung tanganku yang membuat aku merinding dan merona.

"Aku menyukaimu Ever. Sejak pertama kali kita bertemu di peresmian mahasiswa baru. Saat aku tidak sengaja menabrakmu dan membuatmu terjatuh." ucap Evan dengan penuh cinta sambil memandangi langit-langit goa yang berkilau.

Aku tidak menanggapi Evan untuk beberapa waktu, memikirkan bagaimana bisa aku tidak mengingat semua kejadian itu. Yeah, mungkin karena saat peresmian aku beberapa kali terjatuh dikerumunan mahasiswa dan membuatku tidak memerhatikan Evan sama sekali. Yeah, pasti begitu.

"Ever..." panggil Evan dengan lembut. Aku menoleh, melihat senyuman hangatnya dan tak kuasa menahan gejolak dihati, aku melepas genggamannya yang membuat Evan terkejut.

"Maaf, aku hanya terkejut karena, yeah aku tidak mengingat kejadian saat peresmian itu. Tapi itu bukan berarti aku tidak menyukaimu, maksudku, well siapa yang tidak menyukai seorang Evan Smith?" jawabku dengan cepat.

"Aku tidak mengharapkan kau mengingat kejadian itu Ever, itu bukan masalah buatku. Aku hanya, hanya ingin kau tau kalau aku menyukaimu. Aku sangat senang begitu melihat namamu, Ever Morgan, berada di list yang sama denganku." Evan bicara dengan matanya yang penuh cinta dan sangat hangat.

Aku hanya bisa tersenyum malu mendengar ucapannya dan kembali merona saat tangan Evan kembali menggenggam tanganku. Evan mencium punggung tanganku, menatapku, lalu mencium pipiku. Tubuh dan wajahnya semakin mendekat membuat mataku terpejam dengan sendirinya dan tak lama, aku merasakan napasnya memburu di wajahku, aku bisa merasakan detak jantungku semakin cepat, seiring tubuh kami semakin menyatu. Tangannya melingkari pinggangku - suasana goa yang sangat mendukung seolah mengurung kami agar tidak meneruskan perjalanan dan kembali ke camp. Aku......

-Ditulis pada 25 Januari 2016-