Mar 7, 2019

Senyum Sendiri

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.18 malam. Saat ini, aku sedang membaca buku Dilan 1991. Setiap halamannya mengisahkan kenangan yang manis dan ada juga yang pahit, tapi lebih banyak yang manis, walaupun pada akhirnya berujung pahit. Membaca ceritanya, aku yakin akan membuat para wanita yang membacanya akan berharap dapatbertemu laki-laki romantis nan humoris seperti Dilan. Ah, sayang sekali sepertinya tidak banyak orang sepertimu. Tapi kuharap, nanti, aku akan menemukan satu yang sepertimu.

Kisah cinta remaja yang sudah kulewati, pernah manis tapi pernah pahit juga. Dia juga dulu manis, hanya saja dia gila. Gila perempuan! Psyko! Dan brengsek! Tapi itu sudah masa lalu, aku juga tidak mengetahui kabarnya lagi. Kami sudah putus kontak sejak dulu. Dan aku sendiri juga tidak ingin berhubungan dengannya lagi. Membahasnya pun aku malas, tetapi ku ceritakan di sini hanya karena aku teringat kembali bagaimana kisah cintaku dulu waktu SMA, karena membaca dan menonton kisahnya Dilan-Milea.